Jadi mahasiswa abadi

Pada kunjungan pertama saya ke Yogyakarta, bersama seorang teman, saya mewawancarai seorang aktivis sekaligus seorang ketua suatu LSM terkenal di sana. Di tempat tinggalnya yang sangat sederhana saya menanyakan banyak hal tentang masa lalu pergerakan mahasiswa Jogja di tahun 80-an.

Tepat di pelataran rumah beralas ubin kami duduk bersila dan sesekali melihat sebuah candi yang masih berdiri di samping rumahnya itu, ia menceritakan banyak hal mengenai pergerakan mahasiswa di tahun itu. Sesampainya saya bertanya tentang apakah dia termasuk salah seorang dari tipe ‘mahasiswa abadi’, ia menjawab mudah ya saya 10 tahun baru lulus.. itu pun karena dipaksa orang tua saya, kalau tidak dipaksa mungkin sampai sekarang saya masih ke kampus. Saya dan teman saya pun tersenyum, no comment kayaknya, wajarlah ia sekarang jadi orang yang cukup dikenal di kalangan para aktivis, bukan hanya karena jasa perjuangannya saja tapi juga karena kapabilitas intelektualnya yang tidak bisa dibilang remeh, sedikit banyak karena ia telah kuliah 10 tahun, sepertinya demikian.

4 atau 5 tahun ke belakang saya pun pernah berjumpa dengan seorang senior. Kala itu kami berada di salah satu Forum Studi, dengan mengobrol lepas ia bercerita tentang masa perkuliahannya yang terus-menerus berhujung kepada kekecewaan, ya kecewa karena ia tidak menemukan siapa dirinya, sudah beberapa kampus ia masuki kemudian pindah ke kampus yang lain, dan begitu seterusnya. Sampai ia kuliah di suatu kampus swasta yang namanya agak tidak terlalu lumrah dikenal mahasiswa kampus lain, ia bercerita bahwa di sanalah dia seharusnya, dan kuliahnya pun ia rampungkan kurang lebih selama 18 semester. Sekarang ia menakhodai sebuah lembaga penelitian kenamaan di Jakarta dan ia pun berkomentar kepada saya “bukan gelar yang kita mahu kita mahu kualitas, TITIK!’

Masih obrolan dengan mahasiswa abadi. Ia seorang sutradara video klip kenamaan, saat berbincang tentang kuliah ia hanya menjawab ‘emang kuliah itu harus wisuda ya?’ sampai sekarang senior saya yang satu ini memang masih kuliah walau sekarang sudah punya anak-istri.. ‘Saya itu dua tahun belajar (kuliah) dua tahun lagi kerja, begitu dari dahulu, dan bayangan untuk wisuda tidak muncul di benak saya sedikit pun!’ kurang lebih begitu ungkapnya.

Saya pun kembali berfikir, tidak ada ruginya berstatus mahasiswa abadi toh ‘keabadian’ yang dilakoninya pun membuahkan hasil yang terkadang jauh membumbung di atas mereka yang kuliahnya tepat waktu bahkan di atas mereka yang kuliahnya lebih cepat dari target. Saya pun memiliki teman yang hanya kuliah 7 semester saja, IPK nya tertinggi saat diwisuda, hampir mencapai summa cum laude, tapi sekarang dia terlihat loyo menghadapi realita kehidupan yang sepertinya tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, ia hanya mengajar lepas dan lebih menyedihkan lagi ia tidak berkarya. Seharusnya untuk sekelas IPK seperti dia pekerjaannya hebat dan banyak berkarya, ya mestinya begitu. Tapi malang dia tidak beruntung.

Kuliah berlama-lama sampai menyandang gelar mahasiswa abadi pun bukanlah jaminan, ada alasan logis mengapa para aktivis kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa abadi; mereka sibuk, mereka aktif (makanya disebut aktivis) dan mereka berontak terhadap keadaan, proses itulah saya kira yang mematangkan daya fikir mereka juga sekaligus mematangkan visi hidup mereka ke depan. Inilah penempaan-penempaan hidup yang memang tidak diajarkan di bangku kuliah.

Tapi kuliah lama atau cepat bagi saya bukan jaminan apakah seseorang akan memiliki karir yang bagus atau tidak. Anda tentu memaklumi ketika saya sekarang memiliki seorang kenalan yang sudah sangat lama kuliahnya tetapi kegiatan sehari-harinya hanya berpose di depan mahasiswa yang lain, dan terkadang ia duduk di warung kopi sambil bercerita kepada para mahasiswa lain, bahwa dia memiliki pengalaman ini dan itu.. dan ia pun sering memamerkan status mahasiswa abadinya kepada orang lain, tapi tanpa ada perubahan.

Satu Tanggapan ke “Jadi mahasiswa abadi”

  1. fathiiiii Berkata:

    kunjungan balasan nih :)

    masih ingat dong. tapi saking lamanya, tinggal bayang-bayang aja nih. udah ga kebayang, wajahnya seperti apa sekarang. paling cuma inget wajah 7 tahun yang lalu. hehe…

    iya, saya sudah menikah bulan nopember lalu. sekarang sedang menunggu jundi yang pertama :)

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.